Kamis, 29 Maret 2018

5 Sehat 8 Sempurna

Seiring dengan perkembangan zaman, saat ini konsep pola makan 4 sehat 5 sempurna sudah terlalu kuno.. hehehe.. Pemenuhan gizi dengan model seperti ini dianggap tak lagi sesuai. Sebaliknya sekarang disarankan 5 sehat 8 sempurna.
Model atau konsep seperti ini dianggap bisa memenuhi gizi seimbang setiap kali makan. Guru Besar Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Hardiansyah mengatakan bahwa 5 sehat 8 sempurna ini sudah memenuhi aspek untuk kebutuhan gizi, sehingga tak terjadi kelebihan atau kekurangan gizi.
Terus apa saja yang termasuk 5 sehat 8 sempurna???? yang dimaksud 5 sehat 8 sempurna itu pangan pokok (karbohidrat), lauk pauk, sayur, buah, minuman dan membatasi GGL (Gula, Garam dan  Lemak). Kalau 8 sempurna itu aktivitas fisik, jaga kebersihan dan cek gizi serta kesehatan.
Pada dasarnya, konsep pemenuhan gizi ini mengacu pada pembatasan porsi makan sesuai dengan usia yang sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 41 Tahun 2014 Tentang Pedoman Gizi Seimbang Sementara pembatasan GGL dianggap perlu karena beresiko pada penyakit tidak menular seperti diabetes, kolesterol hingga jantung.
Sementara untuk olahraga penting karena semakin banyak yang memiliki badan gemuk, mudah pusing, lemah dan letih karena kurang sehat. Itu semua karena kurang olahraga. Dulu enggak diperlukan olahraga karena dianggap banyak kerja fisik. Sementara itu, pakar gizi masyarakat dari IPB, Dr. Rimbawan mengakui bahwa tidak mudah menyosialisasikan soal gizi seimbang ini kepada masyarakat, karena panduannya semakin rinci dan detail. Selain itu, juga tentang penyederhanaan bahasa karena tak semua paham soal terminologi gizi.
Oleh karena itu, 5 sehat 8 sempurna merupakan bagian dari pemudahan konsep soal gizi seimbang. Diharapkan, konsep ini bisa dipahami agar masyarakat terhindar dari dampak jangka panjang. Kalau kelebihan gizi maka beresiko penyakit degeneratif, sementara kalau kurang gizi juga beresiko rentan terhadap penyakit. Misalnya kekurangan gizi saat anak-anak, maka saat dewasa akan beresiko penyakit degeneratif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar